Sepeda

Jum’at, 8 Maret 2008 

Hari ini aku jengkel sekali… bagaimana tidak…anakku yang baru berusia 3,5 tahun asyik berkeliaran dengan sepeda mininya. Bukan gak boleh, tapi dari pagi sampai menjelang sore tidak pernah mau istirahat, kan sudah tidak benar!

Putraku sangat menikmati mainannya, padahal baru seminggu kami pindah ke desa tersebut. Hebatnya dia telah mendapatkan kawan-kawan barunya.

Kalau sudah pagi, para kawanya sudah memanggil-manggil ngajak main.

 “Abang….abang…main yok? Aku tidak tau alas an apa yang membuat anak-anak sepermainannya selalu memanggilnya “Abang”. Padahal diantara semuanya di yang paling muda umurnya. Mungkin karena tubuhnya tinggi mengikuti postur aku, ayahnya.

Mendengar panggilan, anakku langsung bereaksi layaknya anggota 911, cuci muka, pake baju seadanya, tidak perlu makan, tidak perlu minum, tarik sepeda andalannya..langsung meluncur ke jalan yang merupakan lorong-lorong di desa baru kami.Apakah Sepeda Harus di Simpan?….Jangan!

Agenda mainnya ini hanya diselingi oleh kehausan akibat dibakar teriknya matahari….paling sebentar pulang, ambil gelas, minum dan langsung tancap gas lagi. Layaknya arena F1, masuk Pitstop. Atau kalau nasibnya lagi baik….kehadiran para penjual es krim, penjual roti, dan penjual siomay keliling akan sangat membuat mereka bahagia.

“Mamak…abang minta uang, mau beli es” teriaknya dari luar. Atau

“Mamak….abang mau roti”

“Abang mau fruty”

“Abang mau dibeliin siomay”

Teriakan-teriakan ini akan membuat mamaknya angkat tangan dan angkat dompet untuk mengantisipasi teriakan yang lebih melengking. Ibunya tidak mau ambil risiko, kalau teriakannya lebih tinggi dan nyaring lagi maka bisa-bisa adiknya yang sedang lelap akan terbangun. Ini pasti akan berimplikasi kepada : makan siang akan terlambat, cucian akan terbengkalai, ayahnya akan merepet karena paling tidak sanggup nahan lapar, semua urusan yang lain akan tertunda.

 

Sepeda…..sepeda….sepeda…

Setelah selesai beli-belian, jajan-jajanan……mereka bergerak lagi. Mengayuh sepedanya ke utara, ke barat, selatan, timur…tenggara bahkan ke arah mana saja tanpa peduli panas menyengat kulit putihnya. Tidak ada yang namanya tidur siang..makan siang apalagi.

Semua itu akan berhenti sendirinya di saat satu-satu kawannya di jemput ortunya, atau satu-satu mundur dari arena sirkuit liar tersebut karena kelelahan.

  1. Wah…gimana nih, anak saya sekarang lagi ngrengek2 minta beliin sepeda..tapi saya Bapaknya lagi ndak ada uang.

  2. Saya kira buat anak-anak, sepeda itu perlu sebagai sarana bersosialisasi dg teman2nya. Tapi ya…..anak2 maunya main n diturutin terus. Selamat nabung demi sepeda buat anandanya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: