Misteriusnya Kawan Lama

sekolah-lama.jpg

Malam Minggu, 15 Maret 2008

Jam telah menunjukkan jarum pada angka 21.25 WIB, ketika tiba-tiba HP ku berbunyi.

…tuuuuuuut….tuuuuuuut….tuuuuuuut…

Begitu kuangkat,

“Assalamu’alaikum!”

‘Wa’alaikumsalam,” jawabku. Dari suaranya, aku tidak kenal siapa yang menghubungiku ini, apalagi nomornya tidak tersimpan di HP ku.

“Apa kabar bos?”

“Alhamdulillah baik-baik saja, kalau boleh tahu ini siapa ya”?, tanyaku dengan perasaan sedikit terkejut karena dipanggil “boss”.

“Aku ini salah satu dari sekian banyak kawan sekelas Bos di waktu Tsanawiyah dulu”, jawabnya penuh teka-teki.

“Tapi Bos pasti tidak akan kenal suaraku, tebak saja”, tantangnya.

Aku benar-benar penasaran dibuatnya, kawan ini macam-macam saja, nelpon orang nggak tapi mau terus terang. Aku mencoba membuka jendela pikiranku ke masa lalu, masa aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Semua wajah kawan-kawan sekelas dengan sekejap menebar di hadapanku. Wajah yang muncul  semuanya laki-laki, karena kebetulan yang lagi ngomong denganku saaat ini bersuara laki. Meskipun demikian ada juga beberapa wajah rupawan terutama beberapa wajah teman cewek yang saat dulu menjadi incaran kaum cowok di kelas saat itu, tanpa sengaja juga muncul.

Ismuar, ya?”, aku mencoba menerka lewat suaranya yang serak tapi enak di dengar. Kebetulan kawanku Ismuar ini yang punya suara serak sperti itu adalah salah satu penyanyi andalan di lokal, yang mengambil spesialis gambus berbahasa Arab.

“Bukan,” jawaban di HP ku.

“Atauu… Jailani,” aku mencoba memebayangkan kalau dia adalah cowok kurus, tinggi dan humoris.

“Enggak lah..!” jawabnya.

Aku berusaha menyebut semua nama kaum perjaka yang dulu sekelas denganku, namun tidak satupun yang diiyakan. Fauzi, cowok tertinggi di kelas dan sangat jago matematika, kalau berjalan berjingkat-jingkat seperti pake enggrang; Jafar satu-satunya cowok yang mengganggu peringkat “numero uno” ku di kelas. Sangat jago yang namanya ilmu eksak ; Fikri, cowok terkecil di kelas namun punya selera humor yang jorok ; Ansharullah, yang ngomongnya kayak pelawak Tompel dan sedikit jahil, Fadhil, si kalem yang baik hati dan selalu menebar senyum sekalian giginya yang putih dan besar-besar; Razali, satu-satunya yang sangat jago elektronik, coba bayangin, saat dapat tugas buat ketrampilan tangan, si Razali yang bermata sendu ini, mau-maunya bikin kipas angin rakitan sendiri, padahal kami paling bisa cuma bikin irus batok kelapa, sapu warna-warni, atau asbak dan vas bunga dari tanah liat, itu pun dengan bantuan seluruh keluarga di rumah; Aswadi Arbi, cowok berwajah Hindustan ini sering kami juluki “Juragan Udang” ; Safwadi, cowok klimis yang selalu berpenampilan necis dan sedikit jaim ; Zamzami, berambut landak tapi jago gocek si kulit bundar, sehingga selalu menjadi andalan kami dalam urusan sepakbola ; Saifannur, kalau jalan selalu pelan dan amat teratur dan tidak heboh, Asnawi, pria berkulit gelap yang satu ini jarang senyum, tapi kalau nyengir malah keseringan ; A. Latif, siswa pindahan yang sangat gaul baik dari cara ngomong maupun berpakaian ; Imran, ini kawan sangat percaya diri kalau berhadapan dengan kaum hawa, apalagi yang satu kampung dengannya ; Zahri, cuma sempat bersama di kelas satu setelah itu dia pindah, tapi ada yang bilang dia putus sekolah dan melanjutkan hidup dengan jualan pakaian di kaki lima ; M. Rizal, jarang melawak tapi kalau dengar orang melawak ketawanya enggak bisa dihentiin, bahkan semua yang disampingnya akan basah gara-gara “gerimisnya”. Kelebihan lain yang dimiliki Si Rizal ini, dia jago badminton dan selalu menjadi komandan upacara di hari senin.

Dari semua nama di atas, ada tiga nama yang tidak kusebut yaitu Rasyidin, Taufiq, dan Hasmunzir. Dua nama yang pertama, menurut si penelpon misterius ini, dia sudah jumpa dan dari mereka mendapatkan no HP ku. Sedangkan kawan Hasmunzir, sama-sama kami sudah tahu kalau dia telah berpulang ke Rahmatullah, saat itu dia sudah berkeluarga dan jadi PNS. Semoga dia menjadi salah satu penghuni syurga, amiiin! Hasmunzir merupakan sosok yang bertubuh sangat gemuk dan badannya paling berat di kelas, kebetulan dia kawan sebangkuku. Di samping jago di Pramuka, dia juga ketua kelas saat kami duduk di kelas tiga. Sedikit aku tambahkan kalau kami selalu satu kelas sejak kelas satu, yaitu kelas 1-A, 2-A, dan 3-A. waktu kelas dua Aku yang jadi boss (mungkin ini yang menyebabkan si penelpon memanggilku boss). Sedangkan kala kelas satu yang jadi ketua kelas saudara Rasyidin, komandan kami ini penampilannya tidak pernah rapi. Baju tidak pernah dimasukin ke dalam celana kecuali sudah ditegur sama guru, kadang sepatu dipakai dengan menginjak tumit, lengan baju selalu dilipat. Kalau mau diperhatiin penampilannya mirip-mirip bandit di film-film Indonesia. Sedangkan Taufiq, cowok lincah dan sangat bernyali dalam bercerita humor, tapi selera humornya sangat rendah sehingga adakala setelah dia bercerita, teman-teman yang sejak awal khusyuk mendengar paling reaksinya cuma…wuuuuuuuuuu!!!

“Hasanuddin! ”, kataku menyebut salah satu nama lagi yang tersisa.

“Siapa, Hasanuddin?”, dia terkesiap.

“Terima kasih bos, saya hampir lupa dengan nama yang satu ini!”, ngakunya gembira.

Dia sepertinya memang melupakan saudara Hasanuddin dan itu mungkin saja. Kawan ini pendiam habis namun hatinya sangat baik, jadi memang jarang ngobrol, paling menjadi pendengar yang mulia. Kelebihannya si pendiam ini, dia sangat kuat dan larinya kencang sekali kalau lagi di lapangan hijau. Ya benar, dia juga jadi salah satu andalan kami di tim sepakbola.

Pembicaran dengan si penelpon gelap ini berlangsung cukup lama, dia tidak pernah ngaku siapa dia sebenarnya.

“Kamu dulu duduk sebangku dengan siapa”, tanyaku mencoba mengorek informasi.

“Kalau ketahuan duduk dengan siapa, yan terbongkar deh!”, jawabnya pasti. “Begini saja boss, kalau ada waktu nanti aku akan nelpon bos dan kita janjian untuk ketemu dimana, okey?”, tawarnya.

“Okelah kalau begitu”, aku menerima ajakannya.

Sebelum HP nya di tutup, dia tidak lupa titip salam buat keluargaku. Aku benar-benar dibuat “gundah” olehnya. Siapa dia? Sepertinya semua nama telah kusebutkan dan tidak satu pun yang menunjukkan bahwa itu inisial dia. Aku mencoba mengingat-ngingat, siapa yang belum kusebutkan. Atau dia memang sengaja menciptakan misteri ini, biar surprise saja saat pertemuan nanti? Padahal namanya sudah kusebutkan di antara sekian nama tadi. Mungkin saja! Batinku berkata! Atau dia bukan kawan sekelas tapi satu sekolah….nah kacaukan?

Tapi..

Dari ngobrol panjang dengannya ada beberapa pengakuan darinya yang dapat meyakinkanku kalau dia kawan sekelas. Pertama ; dia sanggup menyebutkan semua nama teman-teman yang sekelas beserta ciri-cirinya kecuali satu yang dia lupa, Hasanuddin (tapi juga tahu cirinya setelah nama itu kusebut), Kedua ; dia mengetahui benar kalau aku dulu sempat menjalin asmara alias cinta monyet dengan salah satu cewek di kelas, Nurasma, Ketiga; dia tahu nama wali kelas kami sejak kelas satu sampai kelas tiga, Keempat ; dia tahu persis letak rumah orang tuaku (enggak valid….bisa saja yang lain tahu, kenapa yang tahu harus teman sekelas). Pokoknya akhir percaya habis kalau dia benar-benar kawan sekelasku.

Akhirnya aku tidur dengan tidak nyenyak malam ini. Aku ingin cepat-cepat menuntaskan misteri ini. Bertemu dengannya! Kalau bisa minggu depan!

    • nana
    • Oktober 15th, 2009

    bikin penasaran aja ::.::….:….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: